Kamis, 15 November 2012

Delapan Ular Bertanduk Menetas di National Zoo

Untuk pertama kali dalam satu dasawarsa lebih, beberapa telur ular bertanduk menetas di National Zoo Smithsonian.

Delapan bayi ular, yang memiliki semacam tanduk peraba di hidung mereka, menetas pada 21 Oktober setelah empat tahun usaha pembiakan yang gagal, menurut pengumuman pihak kebun binatang pada Kamis (8 November).

Spesies air unik asal Asia Tenggara itu tidak terancam punah, tapi hanya ada sedikit informasi yang dimiliki tentang mereka. Hewan tersebut, yang memiliki nama ilmiah Erpeton tentaculatus, memiliki ukuran relatif kecil, sekitar 50-90 cm. Mereka adalah satu-satunya ular yang memiliki tanduk peraba di bagian kepala, yang memungkinkan reptil itu merasakan getaran ikan yang berenang di dekat mereka.

Ular bertanduk menghabiskan hidup mereka di air dan menggunakan ekor mereka untuk menstabilkan diri saat menunggu untuk menyerang mangsa. Penelitian terbaru yang dilakukan menitikberatkan pada cara ular itu menggunakan kemampuan berburu mereka untuk menangkap ikan ke dalam mulut.

Sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal “PloS ONE” pada tahun 2010 menunjukkan bahwa predator yang mahir itu telah mengembangkan sebuah mekanisme untuk menangkap mangsa mereka yang ketakutan yang berakhir sejajar dengan kepala mereka, bukan di depan rahang ular yang terbuka. Rupanya, sistem saraf mereka memungkinkan untuk memperkirakan ke arah mana ikan akan berlari saat kaget.

Ular bertanduk itu juga berkembang dalam tingkat kecepatan yang menakjubkan, yang disaksikan secara langsung para staf di kebun binatang Washington, D.C.

“Beberapa jam setelah menetas, perilaku ular itu seperti ular dewasa,” menurut pernyataan Matt Evans, penjaga di Reptile Discovery Center Smithsonian. “Insting mengambil alih dan mereka berburu. Kami tidak tahu banyak tentang spesies ini, tapi kami sudah belajar banyak hanya dengan melihat mereka tumbuh.”

Bayi-bayi ular itu mungkin akan dikirim ke kebun binatang lain ketika mereka sudah dewasa, tutur staf Smithsonian. Sementara itu, empat ular bertanduk dewasa bisa dilihat di bagian Reptile Discovery Center kebun binatang tersebut.


Sumber : egan Gannon, Editor Berita | LiveScience.com | yahoo.com

Spons Pemakan Daging Penghuni Laut Dalam

Seekor karnivora baru berbentuk seperti lilin terlihat di perairan laut dalam di lepas pantai Monterey Bay, California. Spesies itu dijuluki “spons harpa” karena strukturnya mirip harpa.

Sebuah tim dari Monterey Bay Aquarium Riset Institute (MBARI) di Moss Landing, California, menemukan spesies spons tersebut pada tahun 2000 ketika menjelajah dengan kendaraan yang dioperasikan dari jarak jauh. Spons tersebut hidup hampir 3,5 kilometer di bawah permukaan laut.

"Kami hanya kagum. Tak ada yang pernah melihat hewan ini dengan mata kepala mereka sendiri sebelumnya," ujar Lonny Lundsten, ahli biologi invertebrata dan salah satu yang pertama kali melihat spons harpa itu.

Para peneliti kemudian mengumpulkan dua spons dan membuat video pengamatan lebih dari 10 buah. Perbandingan dengan spons karnivora lain menegaskan bahwa Chondrocladia lyra (nama ilmiah spesies spons tersebut), adalah spesies baru dan mengungkapkan beberapa hal menarik ke dalam siklus hidup spons. Hasil analisis itu diterbitkan pada 18 Oktober dalam jurnal “Biology Invertebrata”.

Menangkap makanan
Kait yang seperti Velcro berduri menutupi tungkai spons yang bercabang, menjaring krustasea saat mereka mereka tersapu ke cabang-cabangnya oleh arus laut. Ketika spons harpa mendapat makanan, ia menyelubungi mangsa dalam selaput tipis, dan kemudian perlahan-lahan mulai mencerna.

Spons tersebut melekat pada sedimen lumpur lembut di dasar laut dengan rhizoid yang hidup di antara makhluk misterius lainnya. Spons harpa pertama yang ditemukan ilmuwan hanya memiliki dua cabang, yang disebut baling-baling. Tambahan kendaraan penyelam yang menggunakan remote mengungkapkan ada makhluk yang sampai memiliki enam baling-baling, ujar Lundsten kepada OurAmazingPlanet.

Yang terbesar berukuran 36 cm. Tim penelitian percaya, spons harpa tersebut telah berevolusi menjadi struktur yang lebih rumit untuk meningkatkan luas permukaan tubuhnya dan menghadapkan diri ke arus harpa tersebut dapat menangkap mangsa yang lebih banyak.

Spons harpa adalah satu dari empat spesies baru yang diidentifikasi Lundsten. "Kami hanya melihat 1 persen Monterey Bay dan itu adalah salah satu lokasi laut dalam yang paling dipelajari dengan baik di Bumi," ujarnya.

Pembuahan spons
Para ilmuwan pertama kali mengetahui bahwa spons itu pemakan daging kurang dari 20 tahun yang lalu. Sebagian besar hidup di laut dalam, sehingga sulit untuk memahami gaya hidup mereka.

Spons harpa yang dikumpulkan oleh para ilmuwan MBARI menandai pertama kalinya peneliti mengamati siklus lengkap yang unik dari spons karnivora tersebut dalam reproduksi seksual.

Kebanyakan spons melepaskan sperma aktif yang berenang dalam air laut di sekitarnya, tetapi tampaknya bahwa semua spons karnivora mentransfer sperma dalam paket terkondensasi (spermatophores), ujar para ilmuwan.

Bola yang membengkak di ujung cabang spons harpa yang tegak itu menyimpan sejumlah sperma. Bola tersebut  melepaskan spermatophores ke arus yang lewat, dan spons terdekat lainnya menangkap paket tersebut pada filamen halus di sepanjang cabang-cabang mereka. Sperma kemudian mencari jalan ke dalam spons induknya untuk membuahi telur-telurnya, menurut para ilmuwan.


Sumber : ecky Oskin, Staf penulis OurAmazingPlanet| LiveScience.com | Yahoo.com

Sabtu, 10 November 2012

Perubahan Iklim ternyata Berpengaruh terhadap hancurnya Peradaban Maya

WASHINGTON (Reuters) - Jika Anda ingin melihat dampak perubahan iklim terhadap masyarakat modern, sebuah penelitian menemukan contohnya pada peradaban Maya kuno, yang hancur karena kelaparan, perang, dan jatuh saat pola cuaca hujan berkepanjangan berubah menjadi kekeringan.

Sebuah tim peneliti internasional mengumpulkan catatan iklim yang mendetail selama 2000 tahun tentang pola cuaca basah dan kering dari kawasan yang kini diketahui sebagai negara Belize, dulunya kota-kota Maya berkembang di situ dari tahun 300 sampai 1000. 

Dengan menggunakan data yang terkunci di stalagmit -- deposit mineral yang tertinggal dari tetesan air di gua-gua -- dan data arkeologi yang dibuat oleh orang-orang Maya, tim ini kemudian melaporkan temuannya di jurnal Science, Kamis.

Tak seperti tren pemanasan global yang dipicu oleh aktivitas manusia, termasuk emisi gas rumah kaca, perubahan iklim di Amerika Tengah saat hancurnya peradaban Maya terjadi karena pola cuaca yang berubah-ubah dengan dahsyat secara alami.

Pola cuaca yang berubah-ubah ini membawa kelembaban tinggi, yang mendorong pertumbuhan peradaban Maya, dan periode kering yang membawa kemarau panjang serta kekeringan selama berabad-abad, kata penulis utama laporan tersebut, Douglas Kennett, antropolog di Penn State University.

Pada periode basah, pertanian berkembang besar, populasi pun bertambah di pusat-pusat kebudayaan Maya, kata Kennett lewat wawancara telepon. Pada masa ini juga terjadi penguatan peran raja di pusat-pusat peradaban, mereka mengklaim bisa mendatangkan hujan yang kemudian membawa kesejahteraan. Mereka pun melakukan upacara korban persembahan agar cuaca tetap mendukung pertanian.

Analogi dengan peradaban modern
Saat musim hujan beralih ke kemarau pada tahun 660, kata Kennett, kekuasaan dan pengaruh para raja itu runtuh, dan berdampak pada perang yang semakin sering terjadi karena perebutan sumber daya alam makin terbatas.

"Anda bisa membayangkan orang-orang Maya terjebak," kata dia. "Idenya adalah para raja ini memastikan hujan tetap datang, mereka menjaga semuanya teratur, dan semuanya baik-baik saja jika Anda di periode musim hujan..tapi saat keadaan menjadi buruk, dan para raja ini membuat persembahan, tapi tak ada yang berubah, maka orang pun mulai bertanya-tanya kenapa para raja ini berkuasa."

Kejatuhan politik raja-raja Maya terjadi pada tahun 900, saat kemarau berkepanjangan mulai memberontak terhadap kekuasaan mereka. Namun populasi Maya bertahan selama seabad kemudian, saat kekeringan dahsyat bertahan dari tahun 1000 sampai 1100 dan memaksa orang-orang Maya meninggalkan pusat-pusat populasi terbesar mereka.

Bahkan di puncak peradaban Maya, manusia memiliki efek terhadap lingkungannya, kata Kennett, terutama dengan pertanian yang menyebabkan terjadinya erosi. Pada musim kemarau panjang, orang-orang Maya pun melakukan intensifikasi pertanian.

Saat iklim di kawasan tersebut berubah menjadi kering dalam sebuah pola panjang yang disebut zona konversi intertropikal, maka itu memperparah dampak kerusakan lingkungan akibat manusia, kata Kennett.

"Ada analogi di sini yang bisa kita tarik ke konteks modern dan harus kita khawatirkan" di Afrika dan Eropa, kata dia.

Jika ada perubahan iklim yang mengabaikan sistem pertanian di sebuah daerah, maka bisa terjadi kelaparan, ketidakstabilan sosial, dan peperangan yang kemudian melibatkan populasi lain, kata dia -- sama halnya yang terjadi di peradaban Maya.

Kita harus bijaksana dalam memperlakukan alam sekitar kita.

Sumber : Deborah Zabarenko | Reuters / yahoo.com